Rapuh.

Bismillah

Asalamualikum

Namanya kehidupan, memang kekadang kita akan merasa seperti di puncak perasaan; sangat berpuas hati, sangat gembira, seolah-olah Allah (SWT) memudahkan segala urusan kita. Tapi, kita juga pasti akan merasai kehilangan perasaan-perasaan yang menggembirakan hati itu. Kita akan berasa sangat sedih, sangat tidak berpuas hati, memberontak, seolah-olah Allah (SWT) tiada di sisi kita untuk menemani kita melalui ujian itu.

Sungguh bodohnya ana!

Hanya dalam sekelip mata, tanpa disedari ana telah memberi kesempatan kepada shaitan untuk mepermainkan perasaan ana. Menghasut minda dan hati ana dengan bermacam-macam hasutan.Astaghfirullahaladziim, buat seketika ana berasa sangat Ujub dengan apa yang ana ada pada masa ini. Bagaimana bisa dalam sekelip mata sahaja ana boleh melupakan bahwa Hidayah yang ana dapat ini adalah daripada Allah (SWT), Allah (SWT) Maha Berkuasa, Allah (SWT) boleh saja mengambil semula hadiah pemberian Yang Maha Esa ini. Lumrah manusia yang sentiasa lalai akan lupa bahwa nikmat yang ada itu adalah anugerah Allah (SWT). Bukanlah yang kita kecapi dengan tangan sendiri. Lahaulawa quwwata illabillahil ‘aliyiladziim. Tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah (SWT)!

Alhamdulillah, Allah (SWT) masih memberi diri ini hidayah dan kesedaran diri. Ana beristighfar dan menitiskan air mata kesedihan kerana tidak menyangka benteng yang selama ini ana bina ternyata sangat rapuh. Tersangat-sangat rapuh!

Alhamdulillah, sekarang ana mulai faham. Allah (SWT) memudahkan urusan ana dan penerimaan ana akan Hidayah Allah (SWT) pada permulaannya. Tetapi, ketahuilah Ujian akan sentiasa menimpa untuk menguji ketulenan Iman seseorang itu. Ya Rabb, jauhkan lah diri ini daripada sifat sombong dan ria’, ana berlindung padaMu daripada menjadi orang yang fasik dan munafiq.

Published in: on March 16, 2010 at 6:29 pm Comments (0)

Penuhkah ‘guni’ kamu?

Bismillah

Asalamualikum

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…

First day of Uni after a week of semester break went just nice. I didn’t really have the Monday Blues for this semester as I only have one lecture in the afternoon. Weehoo! Alhamdulillah. :D

Such a good start for the semester, yes? :)

I attended a Zuhr congregation prayer led by an Imam from Madinah named Imam Sheikh Ali Salleh Bin Mohammad Ali Jaber. Then, he gave a short talk at the senate room. Surprisingly, he sure can speak Indonesian language fluently! (Y) Macam for a moment, ter-puzzle lah sekajap. Ces he has an Arabian look and he speaks Indonesian language! Naaaais ;)

It was such a brief talk for about one hour and a half? I was really really really in awe of the way he conveyed the message of Islam despite all the humors he threw out! Yes, you’re right! He’s so humorous! :) So, basically it wasn’t such a dry, boring talk :D

Let me just share with you an analogy here via Imam Sheikh.

There was a king in the country who called up three of his ministers. The King made them bring along their own gunnysacks and asked them to fill their gunnysacks with ripe fruits only.

So, the first minister was such a loyal servant to the King. He loved the king so much that he knew even he was a minister, he would still have to obey what the king asked him to do. So, he filled in the gunnysack full with ripe fruits only.

The second minister was a little bit reluctant to pick and choose only ripe fruits from the trees. He was also reluctant to climb up trees just to get the ripe fruits as he thought that, this wasn’t the job of a minister. So, what he did was that he just picked any fruits from the tree, be it ripe or unripe.

The third minister thought that the king wouldn’t have the time to actually check on their gunnysacks. He thought that the king was just testing their patience. So, he filled in his gunnysack with grasses!

The next day, all of them went to see the king and gave him their respective gunnysacks.

The king called upon the head of the police and asked him to jail the three ministers for two months and not to supply them with any food or drink but the king let them bring their respective gunnysack. The second and third ministers were extremely shocked. The first minister was just smiling blissfully. ;)

As a result, the third minister died in just few days, the second minister died a month later and the first minister managed to live until he was let go.

Hence the analogy here is that, we are the servants of Allah (SWT). We as the servants have to do as asked by Allah (SWT) and have got follow all the restrictions made by Allah (SWT). Our job is to submit to Allah (SWT), obey Allah (SWT) and do as much good deeds as possible.

Mentioned in Surah Az-Zariyat Verse 56,
“And I have not created the jinn and the men except that they should serve Me”

For what?

Our deeds in Dunya is just like our ‘investment’ for Akhirat. (Dunia ini adalah ladang akhirat…)

Remember, Allah (SWT) does not create us for NOTHING.

How much have we got in our gunnysack for Akhirat?

Is it already full with ripe fruits or is it full with grass??

So… I’m sure each and every one with a wise mind here would opt to be like the first minister! And not the second nor the third.

Marilah kita berlumba-lumba membuat kebaikan,

FASTABIQUL KHAIRATS YA IKHWAH, YA AKHOWATS. :D

Mentioned in surah An-Nisa Verse 77,
“The provision of this world is short, and the hereafter is better for him who guards (against evil); and you shall not be wronged the husk of a date stone.”

Allah (SWT)’alaam…

Published in: on March 8, 2010 at 7:04 pm Comments (0)

Bilakah masanya?

Bismillah

Asalamualikum

Hullo Earthlings! :D

MasyaAllah, it’s great to be back, blogging, sharing the thoughts dancing in my mind~

Alhamdulillah, I’m taking this opportunity during the semester break to blog. I have no idea if I’d go missing in action again when uni starts next week! But, atu belakang kira lah ah? ;)

I came across a verse today during tilawah and thought that I might as well share it with y’all :)

In Surah Fatir, Verse 45.

“Dan kalaulah Allah (SWT) mengirakan kesalahan manusia serta terus menyeksa mereka disebabkan amal-amal jahat yang mereka telah kerjakan, tentulah la tidak membiarkan tinggal di muka bumi sesuatu makhluk yang bergerak; akan tetapi (dia tidak bertindak dengan serta merta, bahkan) Dia memberi tempoh kepada mereka hingga ke suatu masa yang tertentu; kemudian apabila sampai tempoh mereka (maka Allah (SWT) akan membalas masing-masing dengan adilnya), kerana sesungguhnya Allah (SWT) sentiasa Melihat keadaan hamba-hambaNya.”

SubhanAllah. Try to recall and count how much sins have we committed? Uncountable, yes? DEFINITELY!

Imagine, kalau lah azab Allah (SWT) tu on the spot. Whenever we commit a sin, pebaiktah sin yang tani lakukan dengan hati yang orang inda nampak but Allah (SWT) Maha Melihat dan Maha Mengetahui nampak, terus tani dapat balasannya! Knowing the fact that AZAB SEKSA Allah (SWT) TERSANGATLAH PEDIH! Naudzubillahmindzalik. Ana rasa memang nada ada orang yang akan hidup lama di dunia ani. Especially sebagai umat akhir zaman ani…

And Allah (SWT) dengan sifatnya yang Pengampun lagi Penyayang, Allah (SWT) gives us time until we meet the Resurrection Day to REPENT and SUBMIT to Him.

TIME. TO. REPENT. AND. SUBMIT!

REPENT!

SUBMIT!


But, manusia yang sentiasa lalai dengan kehidupan dunia, harta dunia, kesenangan dunia dan menjadi BONEKA DUNIA, take this opportunity that Allah (SWT) has given to us for granted! Memang Allah (SWT) dah sebut dalam Quran Al-Kareem, sedikit sekali hamba Allah (SWT) yang BERSYUKUR! TERAMATLAH SEDIKIT!

In Surah Al-Mulk, Verse 23.

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

*rub it in my face already!* :(

Sometimes it got me thinking, kitani tahu kah bila Hari Kiamat ani? Do we know exactly, the date, the day and the time?? Urusan Hari Kiamat ani hanya Allah (SWT) yang tahu. Kita hanyalah manusia yang SANGAT LEMAH and tidak mengetahui apa-apa pun compared to Ilm yang Allah (SWT) ada.

I came across people who wanted to wait for the RIGHT TIME to repent. Could you please, please, please, tell me WHEN EXACTLY is the RIGHT TIME? Could you guarantee that you are still able to breathe and live a normal life tomorrow? Could you guarantee that the next Jumaat won’t be the Dooms Day?

COULD YOU?

I seriously could not!

Dear readers,

Allah (SWT) does not only take in one complete piece of heart. Remember Allah (SWT) accepts broken pieces of heart too!

Do not think that you’ve commit extremely sinful act and you won’t be forgiven. Rahmat Allah (SWT) tu sangat luas saudaraku…. Allah (SWT) siap tinggalkan advise lagi untuk kitani…

In Surah An-Nur, Verses 20-21.

“Dan kalaulah tidak kerana adanya limpah kurnia Allah (SWT) dan rahmatNya kepada kamu, dan juga (kalaulah tidak kerana) bahawa Allah (SWT) Amat melimpah belas kasihanNya, (tentulah kamu akan ditimpa azab dengan serta-merta).

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; dan sesiapa yang menurut jejak langkah Syaitan, maka sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menyuruh (pengikut-pengikutnya) melakukan perkara yang keji dan perbuatan yang mungkar dan kalaulah tidak kerana limpah kurnia Allah (SWT) dan rahmatNya kepada kamu, nescaya tidak ada seorang pun di antara kamu menjadi bersih dari dosanya selama-lamanya; akan tetapi Allah (SWT) membersihkan sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) dan (ingatlah Allah (SWT) Maha Mendengar) lagi Maha Mengetahui.”

Semua yang baik datangnya dari Allah (SWT), dan yang buruk dari kekurangan ana…

Published in: on March 2, 2010 at 11:06 pm Comments (0)

hijrah tu bukan sekali.

Bismillah

Asalamualikum

Selama ni ana rasa dah berhijrah sepenuhnya. Meninggalkan segala keburukan yang biasa di lakukan dan melakukan segala kebaikan yang di tuntut sesuai dengan ajaran Islam.

Tapi, ana baru tersedar yang sebenarnya hendak berhijrah ni bukanlah suatu perkara yang mudah jika tidak di sertakan dengan niat yang betul dan usaha yang gigih sepanjang perjalanan berhijrah.

‘Sepanjang perjalanan berhijrah’?

Hijrah ni tak mengambil masa satu malam, satu hari, satu bulan ataupun satu tahun.

Selama mana kita menjalani perjalanan hidup ni, selama itu lah perjalanan Hijrah kita.

Selama ni, ana hanya terfikir yang ana dah buat apa yang patut untuk berhijrah.

Ana memang mencuba untuk meninggalkan perkara yang buruk yang biasa di lakukan sewaktu zaman Jahiliyyah.

Ana memang mengejar untuk membuat perkara-perkara yang baik.

What’s next? Is that it?

La! Nahee! Tidak!

Hijrah_Heart

Beberapa hari yang lalu, ana di tegur oleh Allah (SWT) melalui sebuah buku yang pernah di hadiahkan oleh seorang sahabat. Buku tu banyak menegur and membuka mata hati ana yang sebenarnya Hijrah tu di lakukan sepanjang perjalanan hidup kita dan ana tersedar bahwa di dalam diri ana, masih ada karat-karat halus jahiliyyah iaitu berprasangka buruk. MasyaAllah, Allah (SWT) tu Maha Mengetahui dan akan memberi petunjuk kepada siapa yang Ia mahu. Sewaktu ana sedang surfing, ana terjumpa satu gambar bermesej yang benar-benar membuatkan ana berfikir sedalam-dalamnya.

11242_101059796589271_100000557535663_27811_6998688_n

Dan Alhamdulillah, tarbiyyah dari Allah (SWT) datang satu persatu. Hari ini topik yang di bualkan dalam perjumpaan dengan sahabat-sahabat sewaktu berkelah di pantai ialah tentang persahabatan. Up to a point, ana rasa topik yang di bincangkan tu memang khas untuk ana. Setiap ilmu yang di kongsi oleh sahabat yang lain memang membukakan mata hati ana. Alhamdulillah, iAllah… ana akan insert tips untuk menjadi sahabat yang baik bila ana dah dapat sourcenya.

Ingatlah wahai sahabatku; Perkara yang sangat-sangat susah untuk di lakukan di dalam sebuah persahabatan itu ialah husnuzhon iaitu berprasangka baik.

“Jauhilah kamu daripada sangkaan kerana ia sedusta-dusta bisikan hati. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, janganlah kamu mendengar-dengar cerita orang, jangan kamu berlumba-lumba untuk menunjukkan kekuatan di antara satu sama lain, jangan kamu dengki-mendengki, benci-membenci, bermusuh-musuhan dan jadilah kamu semua hamba Allah (SWT) yang bersaudara.”

(Hadith Riwayat Imam Malik, Bukhari, Muslim dan Abu Daud)

iAllah… akan ana usahakan menepis karat-karat jahiliyyah yang ada pada ana.

Do’a kan ana ya? :)

Hadith ke 13:

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra, menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Published in: on December 24, 2009 at 10:38 pm Comments (1)

sabarlah wahai hati…

Bismillah

Asalamualikum

I remember during the exam period, I made an excuse to spend a limited time on Allah (SWT). My MA’s are not fully ticked. There are gaps here and there.

Now, when the exam is finally over. I should get back on track, spend more time on building my relationship with Allah (SWT). But it seems like there are so much Dunyawi entertainments waiting ahead of me (MUJAHADAH TU PERLU!!)  and just today that I realized that I’m slipping a bit.

mujahadah12

What made me realize?

:( Having a relationship problem with people around me.

:( Having bad thoughts about people I loved.

This is not right. I know this is not right.

I said my Istighfar again and again. I told my heart; “Husnuzhon Ya Qalbi” repeatedly. Hoping that all the evil negative thoughts in my head would vanish and will stop from ‘polluting’ my heart!

Then, I remember an ukh shared her story why she encountered problems with people around her. She said that, she has slowly left her daily ‘ibadah like not reciting the Mathurat, not reciting Al-Quran and all. After she found the problem, she quickly solved it by getting back on track. Doing all the daily ‘ibadah as usual. And then, things get better each day.

It seems to me that, I should get back on my feet. And I definitely get what Allah (SWT) is trying to teach me. Let that be between Allah (SWT) and I. :)

So people, whenever you feel miserable, whenever you’re facing problems with people and things around you, it might be that Allah (SWT) is testing your patience or Allah (SWT) is trying to teach you some lesson there.

jef_039127

When a glass is full with water, it will overflow. So, imagine, when your relationship with Allah (SWT) is as full as the water in the glass, then Allah (SWT) will help you in doing your daily work and help you to strengthen your relationship with people around you, just like the water that is overflow. :)

Pemujuk hatiku :D

Everytime, you feel like you cannot go on
You feel so lost
That you’re so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah (SWT) is always by your side

Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)..
Insya Allah (SWT) you’ll find your way

Everytime you can make one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Don’t despair and never loose hope
Cause Allah (SWT) is always by your side
Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)..
Insya Allah (SWT) you’ll find your way
Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)..
Insya Allah (SWT) you’ll find your way

Turn to Allah (SWT)
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
Ooo Ya Allah (SWT)
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way… Showed me the way…
Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)..
Insya Allah (SWT) we’ll find the way

Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)… Insya Allah (SWT)..
Insya Allah (SWT) we’ll find the way.

besfren1

Jazakillahu Khayran Kathiran Ukh Sanie J ;)

… for the great chat we had together!

Sanie J nikmat sahabat Allah (SWT) berikan kepadaku ;) xx

Published in: on December 6, 2009 at 10:19 pm Comments (0)

He was the only one…

Bismillah

Asalamualikum

Alhamdulillah, today is one of the best days of my life.

I sat for my last paper this morning and I ‘graduated’ reciting the Holy Book of Allah (SWT) just this night.

However, the feeling I felt today is totally different than the feeling I had before.

I used to think that it will be much more meaningful and merrier to ‘graduate’ together with the others. And today, Allah (SWT) proved me wrong. I ‘graduated’ alone but somehow, I was at the most peaceful state. There’s only one who accompanied me and watched me ‘graduate’, that is Allah (SWT). MasyaAllah. :’)

girl1

The beautiful du’a at the end of the ‘graduation’ made me burst into tears.

“Segala Puji bagi Allah (SWT), Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Pujian orang-orang ynag bersyukur dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Selawat dan salam ke atas Rasul kita Muhammad dan juga ke atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Ya Allah (SWT), Tuhan kami, terimalah doa dan amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Mengasihani.Tunjukkan dan bimbinglah kami kepada kebenaran dan jalan yang lurus dengan berkat Al-Quran. Ya Allah (SWT), kasihanilah kami dengan berkat Al-Quran, dan jadikannya sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat untuk kami. Ya Allah (SWT), ingatkanlah kami apa yang telah kami lupa dari Al-Quran, dan ajarlah kami apa yang kami tidak tahu tentang isi Al-Quran, dan kurniakanlah kami keupayaan untuk membacanya pada waktu malam dan siang, dan jadikanlah Al-Quran itu sebagai hujah untuk kami. Wahai Tuhan Pemelihara sekalian alam.

Ya Allah (SWT), hiaskanlah diri kami dengan keindahan Al-Quran, muliakanlah kami dengan kemuliaan Al-Quran, serikan kami dengan ketinggian martabat Al-Quran, dan pakaikan kami dengan pakaian permata Al-Quran. Masukkan kami ke dalam Syurga dengan syafaat Al-Quran. Selamatkan kami daripada segala bencana dunia dan azab hari akhirat dengan berkat kehormatan Al-Quran.

Ya Allah (SWT), jadikanlah Al-Quran semasa hidup kami di dunia sebagai rakan dan di dalam kubur sebagai kawan yang mesra, pada hari kiamat sebagai pembantu, sebagai cahaya penyuluh, semasa menuju ke Syurga sebagai teman, dan sebagai penghadang dan pendinding dari api neraka, dan jadikanlah Al-Quran untuk kami sebagai panduan dan ikutan kepada segala kebaikan, dengan limpah kurnia, kemurahan dan kemuliaanMu jua ya Allah (SWT), Tuhan Yang maha Pemurah.

Ya Allah (SWT), tunjukkanlah kami dengan petunjuk Al-Quran. Selamatkanlah kami daripada api neraka dengan sebab kemuliaan Al-Quran. Tinggikanlah darjat dan martabat kami dengan sebab kelebihan Al-Quran, dan hapuskanlah dosa kejahatan kami dengan sebab membaca Al-Quran. Ya Allah (SWT), Tuhan yang mempunyai segala macam kelebihan dan ehsan. Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan perliharalah kami dari azab api neraka.

Allah (SWT) mencucuri rahmat dan salam sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan yang mempunyai Keagungan dan Kekuasaan dari apa yang mereka katakan dan salam sejahtera kepada sekalian rasul. Segala puji tertentu bagi Allah (SWT), Tuhan yang Memelihara dan mentadbir seluruh alam.”

and He was the only one.

Published in: on December 4, 2009 at 1:19 am Comments (0)

solat itu tiang agama.

Bismillah

Asalamualikum

August post! August post!

chayyok
Kaifa Haluk everybody? I hope everyone is doing physically, mentally and spiritually well.

I have good news and bad news here :)

The good news is that, Alhamdulillah I am now a University Freshie and bad news is that due to that, online entertainment is slowly being cut down due to a mound of pending assignments. But iAllah, when I have inspiring stories to tell, I shall find the time to blog about it :)

Alhamdulillah, time is surely running faster than we thought. Ramadhan is coming soon and yayyerrs* someone is leaving :) My anticipation corresponding to the new month to come is that everyone as well as I myself would make the most out of it, building a strong foundation of Iman so that we could move on to a higher level afterwards, iAllah.

ramadan_devil1

Today, I believe I was edified by Allah (SWT) the Almighty. When I was sitting in one of the Surau in the University, my attention was engrossed on a lady in white cover-up praying right ahead of me. There was really something odd I saw in her. As she was performing 4-rakaah prayer, I detected the peculiar thing in her; her legs. They were somehow… abnormal. That explains why it was a bit hard for her to carry out ruku’ and sujud and certainly took a longer time than the other jemaah. Mix of emotions came at one time. I was mesmerized and rather contented that she was being an obedient Muslimah, still performing her duty despite all the flaws she has, despite the longer time she would need to take to perform a prayer, or even maybe the pain that she has to stand, every. single. time. she prays. I was also sad to know the fact that people now whose body components are PERFECTLY FINE do not even pray! Subhanallah. Allah (SWT) has reward you one Nikmat that one who understands it would ever wish for, that is to pray peacefully in a sense that you do not have to suffer from any pain during prayers. Try to imagine that one day, Allah (SWT) takes back His reward. Maybe you break a leg, maybe your hands or legs are being amputated, isn’t that going to make your life miserable? Even worst, when you make that as a reason not to perform prayer! Nauzubillahmindzalik. Masya Allah (SWT). For a bit, I kept on praising Allah (SWT). I thanked Him for creating me perfectly that I wouldn’t have to ‘suffer’ in prayers. Subhanallah, Alhamdulillah.

Take a moment reflecting the moral of the story. Allah (SWT) has given us an unproblematic or say ‘painless’ way to do Ibadah, then lets not waste it and take it for granted. It’s not that hard really. At the end of the day, it’s all in your mind!

Melewatkan solat

Last of all, I’m pretty certain that I will not have the time to blog and greet all of you happy fasting, so I shall do it in advance :)

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA EVERYONE! :D

Published in: on August 19, 2009 at 7:51 pm Comments (0)

ohhh nasii ayam….

Bismillah

Asalamualikum

Waktu dah pun menunjukkan 12 tengah malam dan surprisingly, mata ana masih luas terbuka. Haaa, ini sudah tentu kesan dari kopi yang ana minum malam tadi. ( dah tak surprise pon :P )

So, Alhamdulillah kita di pertemukan lagi dan ana masih di beri peluang oleh Allah (SWT) untuk berkongsi sedikit sebanyak ‘ilmu yang ana ada.

Jadi… apa topik kita hari ini yah?

Ana rasa ana nak kongsi tentang rezki.

Di jadikan cerita, hari ini ana yang baru berjinak-jinak dengan Islam ini menapak lagi satu langkah dalam mendekatkan diri ana dengan Allah (SWT). Beberapa hari yang lalu, ana dan seorang ukhti membeli satu buku yang kecil sizenya, nipis, ringan dan senang di bawa ke mana-mana, maksud ana, ‘portable’. Walaupun sedih ana menyatakan, buku tersebut ‘terbiar’ di dalam bag ana selama beberapa hari dan baru hari ini ana teringat dan tergerak hendak membaca buku tersebut.

( manusia, memang selalu lalai :( Tetapi, ana bersyukur Allah (SWT) beri ana gerakan hati untuk membaca buku tersebut hari ini. Alhamdulillah. )

Buku tersebut berjudul Al-Ma’surat Sughra.

Eh, apa ke bende nya Al-Ma’surat ni haaa?

Al-Ma’surat ini mengandungi bacaan dzikir harian pagi dan petang yang selalu di amalkan oleh nabi kita iaitu, Nabi Muhammad SAW. (:

Selesai solat maghrib, ana luangkan sedikit masa membaca Al-Ma’surat. Setelah segalanya siap, ana dan ummi pergi melawat nenek ana yang tinggal hanya perjalanan 5 minit dari rumah ana. MasyaAllah, kedatangan kami memang layak di panggil langkah kanan. :)

Kebetulan Aunty ana sedang menyiapkan makan malam. Nak tahuuu ke ape?

Home-Made Nasi Ayam. :)

Di jadikan cerita, pagi tadi ana meminta ummi untuk memasak Nasi Ayam untuk menu makan tengahari. Tapi ummi kata susah pulak kerana bahan-bahan nya ummi belum beli. So, ana pun go ahead dengan menu lain.

MasyaAllah, ana sempat jugak makan Nasi Ayam harini :)

Allah (SWT) tu Maha Kaya, nenek siap bagi duit lagi sebelum ana dan ummi pulang.

Ana tak minta pun, tapi ana rasa ini semua berkat Dzikir Al-Ma’surat yang ana baca tadi.

InsyaAllah, Al-Ma’surat akan ana amalkan selalu.

Dan Allah (SWT) memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

[ Al-Baqarah; 212 ]

So sebelum ana mengundurkan diri, ana nak kongsi 20 petua murah rezki.

Marilah kita bersama-sama menjaga hubungan kita dengan Allah (SWT) dan insyaAllah, Allah (SWT) akan menjaga hubungan kita dengan orang lain.



20 Petua Murah Rezeki


Amalan-amalan ini menjadi sebab Allah (SWT) limpahi hamba-Nya dengan
keluasan rezeki dan rasa kaya dengan pemberian-Nya. Berdasarkan
konsep rezeki yang telah diperkatakan, Allah (SWT) memberi jalan buat
setiap hamba-Nya untuk memperolehi rezeki dalam pelbagai bentuk yang
boleh menjadi punca kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya:

1. Menyempatkan diri beribadah


Allah (SWT) tidak sia-siakan pengabdian diri hamba-Nya, seperti firman-
Nya dalam hadis qudsi:


“Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan
membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya
maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup
kefakiranmu.” (Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari
Abu Hurairah r.a.)

2. Memperbanyak istighfar


Istighfar adalah rintihan dan pengakuan dosa seorang hamba di depan
Allah (SWT) , yang menjadi sebab Allah (SWT) jatuh kasih dan kasihan pada
hamba-Nya lalu Dia berkenan melapangkan jiwa dan kehidupan si hamba.
Sabda Nabi s.a.w.:
“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah (SWT) s.w.t akan
menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan
memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Riwayat Ahmad,
Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas
r.a.)

3.Tinggalkan perbuatan dosa


Istighfar tidak laku di sisi Allah (SWT) jika masih buat dosa. Dosa bukan
saja membuat hati resah malah menutup pintu rezeki. Sabda Nabi
s.a.w.:
“… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa
yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi)

4.Sentiasa ingat Allah (SWT)
Banyak ingat Allah (SWT) buatkan hati tenang dan kehidupan terasa lapang.
Ini rezeki yang hanya Allah (SWT) beri kepada orang beriman. Firman-Nya:
“(iaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingati Allah (SWT) . Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah (SWT) hati
menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

5.Berbakti dan mendoakan ibu bapa


Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah s.a.w. berpesan agar
siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah
berbakti kepada ibu bapanya dan menyambung tali kekeluargaan.
Baginda s.a.w. juga bersabda:
“Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan
Allah (SWT) akan memanjangkan umurnya.” (Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani,
al-Asybahani dan al-Hakim)


Mendoakan ibu bapa juga menjadi sebab mengalirnya rezeki,
berdasarkan sabda Nabi s.a.w.:
“Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya
nescaya terputuslah rezeki (Allah (SWT) ) daripadanya.” (Riwayat al-Hakim
dan ad-Dailami)

6.Berbuat baik dan menolong orang yang lemah


Berbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuklah menggembirakan
dan meraikan orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin,
juga isteri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi s.a.w.:
“Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana
orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)

7.Tunaikan hajat orang lain


Menunaikan hajat orang menjadi sebab Allah (SWT) lapangkan rezeki dalam
bentuk tertunainya hajat sendiri, seperti sabda Nabi s.a.w.:
“Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah (SWT) akan menunaikan
hajatnya…” (Riwayat Muslim)

8.Banyak berselawat


Ada hadis yang menganjurkan berselawat jika hajat atau cita-cita
tidak tertunai kerana selawat itu dapat menghilangkan kesusahan,
kesedihan, dan kesukaran serta meluaskan rezeki dan menyebabkan
terlaksananya semua hajat. Wallahu a’lam.

9.Buat kebajikan banyak-banyak


Ibnu Abbas berkata:
“Sesungguhnya kebajikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan
rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain.
Manakala kejahatan pula boleh menggelapkan rupa, menggelapkan hati,
melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya.”

10.Berpagi-pagi


Menurut Rasulullah s.a.w., berpagi-pagi (memulakan aktiviti harian
sebaik-baik selesai solat Subuh berjemaah) adalah amalan yang berkat.

11.Menjalin silaturrahim


Nabi s.a.w. bersabda:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya
maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya.” (Riwayat Bukhari)

12.Melazimi kekal berwuduk


Seorang Arab desa menemui Rasulullah s.a.w. dan meminta pedoman
mengenai beberapa perkara termasuk mahu dimurahkan rezeki oleh
Allah (SWT) . Baginda s.a.w. bersabda:
“Sentiasalah berada dalam keadaan bersih (dari hadas) nescaya Allah (SWT)
akan memurahkan rezeki.” (Diriwayatkan daripada Sayidina Khalid al-
Walid)

13.Bersedekah


Sedekah mengundang rahmat Allah (SWT) dan menjadi sebab Allah (SWT) buka pintu
rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam:
“Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang
Arasy, yang dikirim oleh Allah (SWT) azza wajalla kepada setiap hamba
sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada
orang lain, nescaya Allah (SWT) membanyakkan baginya. Dan siapa yang
menyedikitkan, nescaya Allah (SWT) menyedikitkan baginya.” (Riwayat ad-
Daruquthni dari Anas r.a.)

14.Melazimi solat malam (tahajud)


Ada keterangan bahawa amalan solat tahajjud memudahkan memperoleh
rezeki, menjadi sebab seseorang itu dipercayai dan dihormati orang
dan doanya dimakbulkan Allah (SWT)

15.Melazimi solat Dhuha


Amalan solat Dhuha yang dibuat waktu orang sedang sibuk dengan
urusan dunia (aktiviti harian), juga mempunyai rahsia tersendiri.
Firman Allah (SWT) dalam hadis qudsi:
“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat
rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan
Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan
Thabrani)

16.Bersyukur kepada Allah (SWT)


Syukur ertinya mengakui segala pemberian dan nikmat dari Allah (SWT) .
Lawannya adalah kufur nikmat. Allah (SWT) berfirman:
“Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-
Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya
azab-Ku amat keras.” (Ibrahim: 7) Firman-Nya lagi: “… dan Kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 145)

17.Mengamalkan zikir dan bacaan ayat Quran tertentu


Zikir dari ayat-ayat al-Quran atau asma’ul husna selain menenangkan,
menjenihkan dan melunakkan hati, ia mengandungi fadilat khusus untuk
keluasan ilmu, terbukanya pintu hidayah, dimudahkan faham agama,
diberi kemanisan iman dan dilapangkan rezeki.
Misalnya, dua ayat terakhir surah at-Taubah (ayat 128-129) jika
dibaca secara konsisten tujuh kali setiap kali lepas solat,
dikatakan boleh menjadi sebab Allah (SWT) lapangkan kehidupan dan
murahkan rezeki.
Salah satu nama Allah (SWT) , al-Fattah (Maha Membukakan) dikatakan dapat
menjadi sebab dibukakan pintu rezeki jika diwiridkan selalu;
misalnya dibaca “Ya Allah (SWT) ya Fattah” berulang-ulang, diiringi
doa: “Ya Allah (SWT) , bukalah hati kami untuk mengenali-Mu, bukalah
pintu rahmat dan keampunan-Mu, ya Fattah ya `Alim.” Ada juga hadis
menyebut, siapa amalkan baca surah al-Waqi’ah setiap malam, dia
tidak akan ditimpa kepapaan. Wallahu a’lam.

18.Berdoa


Berdoa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah (SWT) , penuh
bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya. Dalam
al-Quran, Allah (SWT) suruh kita meminta kepada-Nya, nescaya Dia akan
perkenankan.

19.Berikhtiar sehabisnya


Siapa berusaha, dia akan dapat. Ini sunnatullah. Dalam satu hadis
sahih dikatakan bahawa Allah (SWT) berikan dunia kepada orang yang
dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah (SWT)
beri kepada orang yang dicintai-Nya saja. (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi
Syaibah dan al-Hakim)
Bagi orang beriman, tentulah dia perlu mencari sebab-sebab yang
boleh membawa kepada murah rezeki dalam skop yang luas. Misalnya,
hendak tenang dibacanya Quran, hendak dapat anak yang baik
dididiknya sejak anak dalam rahim lagi, hendak sihat dijaganya
pemakanan dan makan yang baik dan halal, hendak dapat jiran yang
baik dia sendiri berusaha jadi baik, hendak rezeki berkat dijauhinya
yang haram, dan sebagainya.

20.Bertawakal


Dengan tawakal, seseorang itu akan direzekikan rasa kaya dengan
Allah (SWT) . Firman-Nya:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah (SWT) , nescaya Allah (SWT) mencukupkan
(keperluannya) .” (At-Thalaq: 3)
Nabi s.a.w. bersabda:
“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah (SWT) dengan sebenar-benar
tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia
pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-
Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab
r.a.)
Kesemua yang disebut di atas adalah amalan-amalan yang membawa
kepada takwa. Dengan takwa, Allah (SWT) akan beri “jalan keluar (dari
segala perkara yang menyusahkan) , dan memberinya rezeki dari jalan
yang tidak terlintas di hatinya.” (At-Talaq: 2-3)
Pendek kata, bagi orang Islam, untuk murah rezeki dalam ertikata
yang sebenarnya, kuncinya adalah buat amalan-amalan takwa. Amalan-
amalan ini menjadi sebab jatuhnya kasih sayang Allah (SWT) , lalu Allah (SWT)
limpahi hamba-Nya dengan keluasan rezeki dan rasa kaya dengan
pemberian-Nya.

Published in: on July 6, 2009 at 1:10 am Comments (0)

spices of life. :)

Bismillah

Asalamualikum

Sesungguhnya Iman ini amat lemah.

Sesungguhnya diri ini terlalu banyak kekurangannya.

Baru sahaja beberapa hari yang lepas ana memberi tazkirah kepada akhowat yang lain mengenai menjaga hubungan dengan ibu bapa dan betapa Islam menekankan tentang adab anak terhadap ibu bapanya.

Betapa besarnya dan lumayannya ganjaran Allah (SWT) kepada mereka yang menjaga hubungan dengan ibu bapa.

… dan betapa dahsyatnya pula azab Allah (SWT) kepada mereka yang tidak menjaga hubungan dengan kedua ibu bapanya, dalam perkataan lain iaitu derhaka kepada ibu bapa.

Hari ini, ana diberi pengajaran sekaligus membuka mata ana bahawa bukan senang untuk menjadi seorang muslimah yang ’sebenar-benarnya’. Bukanlah ana bermaksud niat ana untuk berubah itu semakin rapuh. Bahkan ana menyedari, ana kekurangan ilmu dan terlalu banyak lagi yang ana perlu belajar.

“Giving up is not an option, you have to fight it!”

Hari ini, ana telah terkeluar daripada batasan yang ditetapkan oleh Islam dalam menjaga hubungan dengan ibu bapa. Walaupun pada pendapat sesetengah orang tidak mengapa sekali-sekala memberontak tetapi cuba selidik semula ajaran Islam dalam adab menghormati ibu bapa.

Rasa di tampar muka ana (Background song – Tamparan Wanita by Elite) apabila terdengar pula DJ di radio Nur Islam membincangkan tentang menjaga hubungan dengan ibu bapa. Inilah teguran daripada Allah (SWT) ana mengagak. Dan inilah tarbiyyah daripada Allah (SWT).

“It is when you experience it and made mistakes from it that you’ll learn.”

Tentang penjagaan hubungan dengan kedua ibu bapa kita sering kali di tekankan di dalam Al-Quran, malahan hubungan dengan ibu bapa seringkali disebutkan selepas hubungan dengan Allah (SWT). Ketara sangatlah bahawa Allah (SWT) benar-benar menitik beratkan tentang adab kita terhadap kedua orang tua.

1. Sembahlah Allah (SWT) dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berb
uat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah (SWT) tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (4:36)
2. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan…. (6:151)

Sebagaimana pentingnya peranan anak kepada ibu bapanya, lebih penting lagilah peranan seorang anak terhadap ibunya.

1. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (31:14-15)

2. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (46:15)

Nabi Muhammad SAW juga sangat memuliakan kedudukan seorang ibu sepertimana disabdakan oleh baginda;

1. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasululah S.A.W. siapa yang lebih besar
haknya terhadap wanita?” jawab Rasulullah S.A.W. “suaminya”. “Siapa pula berhak
terhadap lelaki?” “Ibunya”.

2. Apabila memanggil akan engkau 2 orang ibu bapamu, maka jawablah ibumu.

3. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

Over 1400 years ago, one of the companions of Prophet Muhammad (SAWS) (peace be upon him)

asked him who the most deserving person of his kindness and his companionship was.


The Prophet (p) said, “Your mother.”

The man asked, “Then whom?”

He said, “Your mother.”

The man asked for the third time, “Then whom?”

The Prophet (p) said, “Your mother.

The man asked for the fourth time, “Then whom?”

The Prophet (p) said “Your father.”


muslim2520family

Alhamdulillah… Ana sudah berbaik dengan Ummi selepas beberapa jam saling mendiamkan diri. (menyamal lah tuuu…) :D For more info about respect towards our  mothers, kindly refer to my previous post – My Mother.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

(17: 23-24)

Published in: on June 2, 2009 at 11:15 pm Comments (1)

treasure from Facebook! :)

Bismillah

Asalamualikum

I wish there’s this sort of advanced technology, where we could just say what we wanna blog about and it will automatically be typed here! 

You wish Nads! :P

So, my point here is that.. I haven’t really got the inspiration to blog and the position of my Iman now is Iman Yan’kush :( Oh noo! Yes, I’m trying to boost up my Iman and I just found something from the Quran just now. So, I am now motivated! Yay! Alhamdulillah, Ya Rabb. :D

So, as I was ‘looking around’ at my Facebook, I found this. 

It helped me and I hope it would be a help to you too. :)

Want to get closer to Allah (SWT),

but don’t know how!


In many Islamic circles or presentations, I am asked a similar question from my brothers and sisters: “I want to get closer to Allah (SWT), but don’t know how; or I don’t have the power to do it. Sometimes I can succeed in getting close to Him when I spend time with pious friends who are affecting me, but when they are no longer around, I lose that closeness. I become powerless.”

Allah (SWT), the Exalted is the Best to respond to this concern:

(When My servants ask thee concerning Me, I am indeed close (to them): I listen to the prayer of every suppliant when he calls on Me: let them also, with a will, listen to My call, and believe in Me: that they may walk in the right way.) (Al-Baqarah 2:186)

As Muslims, we believe in the Word of Allah (SWT), then should we not believe in the above verse? Of course we want to believe, but what truly keeps us from believing it in our hearts and feeling it when we make supplications?

If we can imagine there is a beautiful scenery in front of us, but there is also a curtain or veil between us and the scene. We can have a glimpse of the beauty on the other side, but not all. We want to see it all, but we keep sitting in our place and do not get up to move the curtain aside so we can have a full view.

Removing the veil or curtain takes the following efforts:

First, there must be a desire;

Second, the knowhow;

Third, keeping it open for full view at all times.

Sometimes people think of wanting to be close to Allah (SWT), but the desire is not strong enough. Faith is like a seed. It must be planted in fertile soil and watered. It is a process that would take time and determination.

To begin with, we must observe the most important duty Allah (SWT) has prescribed to us,

Actions must lead to the cleansing of the heart of all that is displeasing to Allah (SWT). This might not be easy, especially for the younger generation. which is devotion and worship. This is the first step for achieving closeness to Allah (SWT)

In a Qudsi hadith the Prophet reported that Allah (SWT) says,

“..my servant does not come closer to Me with anything more dear to Me than that which I made obligatory upon him. My servant keeps coming closer to Me with more volunteer deeds, until I love him. When I love him, I become His ear by which he hears, his eyes by which he sees, his hand by which he holds and his foot by which he walks. If he asks Me anything I shall give him. If he seeks My protection I shall grant him My protection… “(Al-Bukhari 6021)

While performing correct worship, one must choose the way to piety and righteousness mentioned in the hadith; a major step of getting closer to Him the Almighty. The person who has taqwa or piety, is the one who is foremost in doing good and wants to be ahead of others in goodness.

(And the foremost are the foremost. These are they who are drawn nigh (to Allah (SWT)). In the gardens of bliss.)(Al-Waqi`ah 56:10-12)

He remembers his humility in front of Allah (SWT), and knows he can call on Him with hope and fear. He desires much closeness to Him.

(Call on your Lord with humility and in private: for Allah (SWT) loves not those who trespass beyond bounds. Do no mischief on the earth, after it hath been set in order, but call on Him with fear and longing (in your hearts): for the Mercy of Allah (SWT) is (always) near to those who do good.) (Al-A`raf 7:55, 56)

Naturally, this person also knows that charity is another way to bring him closer to his Creator, for Allah (SWT) loves those who give to the needy from their wealth and hates the hard fisted.

In a Qudsi hadith the Prophet reported that Allah (SWT) says,

“Allah (SWT) will say on the Day of Judgment, … O son of Adam, I asked you for food and you fed Me not. He will say: O Lord, and how should I feed You when You are the Lord of the worlds? He will say: Did you not know that My servant so and so asked you for food and you fed him not? Did you not know that had you fed him you would surely have found that with Me? O son of Adam, I asked you to give Me to drink and you gave Me not to drink. He will say: O Lord, how should I give You to drink when You are the Lord of the worlds? He will say: My servant so and so asked you to give him to drink and you gave him not to drink. Had you given him to drink you would have surely found that with Me.” (Muslim)

This person does all right deeds in order to bring himself closer to his Creator. If he does all this and still does not feel as close to Allah (SWT) as he wants then he might look at his environment and those he befriends and the condition of his lifestyle. Are his/her friends neglectful of Allah (SWT) and often engage in idle talk or activities which Allah (SWT) dislike? Are members of his family busy spending most of their time at home in front of TV watching programs Allah (SWT) dislikes and he participates with them? Are friends and family the cause of his weakness in religion? Is he/she dressed properly according to Islamic mose of dress as he/she likes? 

The influence of a close friend is greater than one can imagine. One must take heed who he chooses as a close friend. Knowing our tendencies to incline to people and the worldly life, Allah (SWT) warns us not to get side tracked.

( O ye who believe let not your riches or your children divert you from the Remembrance of Allah (SWT) if any act thus, the loss is their own.) (Al-Munafiqun 63:9)

Actions must lead to the cleansing of the heart of all that is displeasing to Allah (SWT). This might not be easy, especially for the younger generation. Yet they must remember they are the torchbearers of Islam and they are the ones who can influence their peers better than older people. What a better blessing is it than one knowing that he is doing all he can to gain the pleasure of his Creator?

(Thus, then, if he be of those Nearest to Allah (SWT), there is for him Rest and Satisfaction, and a Garden of Delights.) (Al-Waqi`ah 56:88,89)

To maintain closeness with Allah (SWT), besides the above recommendations, one may engage in Dhikr or remembrance of Allah (SWT) as often as one can

( O ye who believe remember Allah (SWT) very often and glorify Him morning and evening.) (Al-Ahzab 33:41,42)

Dhikr empties the heart and the mind of impurities and brings a meaningful satisfaction to one’s life.

(Behold in the Remembrance of Allah (SWT) do hearts find satisfaction.) (Ar-Ra`d 13: 28)

Finally, since we believe in the Word of Allah (SWT), we find the solution of closeness to our Creator is given to us by Him.

(Therefore remember Me, I will remember you.) (Al-Baqarah 2:152)

By Raya Shokatfard 

Freelance Writer — Egypt 

– 
“Whoever guides [another] to a good deed will get a reward similar to the one who performs it.” Prophet Mohammad (SAWS) (PBUH)[Sahih Muslim]

Published in: on June 1, 2009 at 11:00 pm Comments (0)
Close
E-mail It